Terima SK KemenkopUKM, Koperasi Disabilitas Pertama di Indonesia Sah Berdiri

Posted on

Terima SK KemenkopUKM, Koperasi Disabilitas Pertama di Indonesia Sah Berdiri

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) memberikan surat keputusan (SK) pendirian Koperasi Marketing Kuat Mandiri Indonesia, koperasi disabilitas pertama di Indonesia, pada puncak acara pameran Karya Tanpa Batasan. Ini sebagai serangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional.

Gelaran pameran Karya Tanpa Batasan diadakan sebagai ide Organisasi Tindakan Kebersamaan Zaman Kabinet Indonesia Maju (OASE-KIM) bekerja bersama dengan KemenkopUKM, Kementerian Pengajaran, Kebudayaan, Penelitian dan Teknologi (Kemendikbudristek), dan Yayasan Perempuan Kuat Berdikari Indonesia (PTI), sebagai sisi dari peringatan hari Disabilitas Internasional yang jatuh di tanggal 3 Desember tiap tahunnya.

Pada puncak acara Karya Tanpa Batasan yang diadakan di Exhibition Hall Smesco pada Selasa 20 Desember 2022, KemenkopUKM memberikan SK pendirian Koperasi Marketing Kuat Mandiri Indonesia, sebagai koperasi disabilitas dan SK pendirian Lembaga Inkubator bernama Inkubator Wiraswasta Disabilitas Indonesia.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan penyerahan SK Koperasi Marketing Kuat Mandiri Indonesia dan SK Inkubator Wiraswasta Disabilitas Indonesia sebagai cara riil dan support kemenkopUKM untuk menyiapkan sarana simpatisan untuk penyandang disabilitas untuk berperan serta dalam perekonomian.

“Dengan berdirinya koperasi dan lembaga inkubasi ini, kami mentargetkan supaya tahun depannya bisa berdiri 50 perusahaan atau wiraswasta baru dari penyandang disabilitas, yang dapat bersaing dan mempunyai sustainability,” katanya,

Teten menerangkan KemenkopUKM mempunyai gagasan untuk bekerja bersama dengan Kemendikbudristek dalam merevitalisasi peranan Sekolah Luar Biasa (SLB). Keinginannya, SLB di depan menjadi inkubator-inkubator kecil dalam membuat kewiraswastaan pelajar-siswa SLB.

Diharap, keterampilan yang dipunyai oleh pelajar-siswa SLB ini menjadi modal dasar mereka untuk membuat kewiraswastaannya.

Wiraswasta

Disamping itu, wiraswasta penyandang disabilitas lewat koperasi dapat difasilitaskan permodalannya lewat Lembaga Penyaluran Dana Berguling (LPDB) yang dipunyai KemenkopUKM atau support permodalan dari sektor perbankan, untuk meningkatkan upayanya.

“Saya percaya, mekanisme simpatisan berikut yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas, supaya mereka sanggup untuk tingkatkan keterlibatannya dalam perekonomian,” sambungnya.

Suzana Teten Masduki, sebagai wakil OASE-KIM, menambah Gelaran Karya Tanpa Batasan diharap menjadi moment tahunan pada bulan Desember dan tidak sekedar untuk rayakan hari disabilitas internasional.

“Gelaran itu diharap bisa untuk menggerakkan dan terus mengawasi kenaikan keterlibatan golongan disabilitas di Indonesia dan untuk memperlihatkan pada penyandang disabilitas jika negara ada dengan mereka,” lebih Suzanna.

Majukan Golongan Disabilitas

Ketua Umum Yayasan Perempuan Kuat Indonesia Myra Winarko memperjelas dalam pembangunan dan perkembangan sebuah negara, jangan ada golongan masyarakat yang ketinggalan, khususnya mereka yang sejauh ini mempunyai kebatasan pada akses ekonomi, penyandang disabilitas dan wanita-perempuan yang hidup memikul disabilitas.

“Kami yakin, pergerakan ini akan membuat warga kita lebih emansipatif. Seterusnya, kami yakin jika lebih memajukan golongan disabilitas bukan tugas yang simpel, dan tidak dapat seutuhnya diberikan pada pemerintahan. Maka dari itu, semenjak awalnya Pergerakan kami selalu mengikutsertakan beragam perusahaan yang kontributif dan mempunyai penglihatan yang serupa dengan kami atau menggerakkan public privat partnership” ucapnya.

Mengarah pada data SUSENAS 2020, jumlah penyandang disabilitas Indonesia capai 28,05 juta orang, dan 22 % salah satunya ada pada barisan umur produktif. Walau akses dan keterjangkauan pengajaran untuk penyandang disabilitas semakin meningkat, tapi sampai tahun 2020, baru 72 % penyandang disabilitas bekerja di sektor tidak resmi (Index Kesejahteraan Sosial 2020).

Walau sebenarnya, peningkatan ketenagakerjaan disabilitas di sektor tidak resmi menjadi satu diantara misi perekonomian inklusif. Profile ini memvisualisasikan tingginya kekuatan penyandang disabilitas sebagai wiraswasta, konsumen, dan pekerja profesional.

Bisa diibaratkan jika kenaikan akses dan peluang penyandang disabilitas dalam ekosistem kewiraswastaan, baik pada tingkat global atau nasional, akan memberi imbas berarti pada keproduktifan dan perekonomian nasional.